dana darurat, tabungan, tunaiku, amar bank, keuangan

7 Jebakan Kebiasaan Finansial Gen Z yang Sering Dianggap Sepele

Gen Z dikenal sebagai generasi yang melek teknologi, cepat adaptasi, dan serba digital. Urusan aplikasi, tren, sampai side hustle online, rasanya nggak ada yang ketinggalan. Tapi ketika masuk ke topik keuangan pribadi, ceritanya sering berbeda.

Gaji terasa numpang lewat. Tabungan belum juga konsisten. Resolusi finansial yang semangat dibuat di awal tahun, perlahan menguap sebelum pertengahan tahun.

Amar Bank
Oleh: Fadhilah Hasyyati

Pada: 26 Feb 2026

Daftar Isi

Blog ID:

Amar Bank
Oleh: Fadhilah Hasyyati

Pada: 26 Feb 2026

dana darurat, tabungan, tunaiku, amar bank, keuangan

Data juga menunjukkan hal yang menarik. Berdasarkan Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) Desember 2025, porsi pendapatan yang disimpan (saving to income ratio) berada di angka 14,9%, masih jauh dibanding porsi konsumsi yang mencapai 74,3%. Artinya? Pengeluaran masih mendominasi.

Di era serba digital seperti sekarang, godaan belanja memang ada di mana-mana. Satu klik checkout. Satu swipe bayar. Satu notifikasi promo bisa langsung bikin saldo tergerus.

Kalau kamu ingin resolusi keuangan 2026 benar-benar jalan, coba kenali dulu 7 jebakan finansial yang sering dianggap sepele berikut ini.

 

1. Terlalu Banyak Target Sekaligus

Menabung iya. Investasi iya. Traveling iya. Upgrade gadget juga iya. Nongkrong? Jalan terus.

Masalahnya, semua ingin dicapai dalam waktu bersamaan tanpa perhitungan matang. Akhirnya? Nggak ada yang benar-benar selesai.

Solusinya sederhana: batasi fokus pada 1–3 prioritas utama dulu. Untuk tahap awal, punya dana darurat dan kontrol pengeluaran saja sudah langkah besar. Setelah itu stabil, baru tambah target lain.

 

2. Resolusi Tanpa Angka yang Jelas

“Harus lebih hemat.”
“Harus rajin nabung.”

Kedengarannya bagus, tapi terlalu abstrak. Tanpa angka, kamu nggak pernah tahu apakah sudah berhasil atau belum.

Coba ubah target jadi lebih konkret, misalnya menabung Rp300.000–Rp500.000 per bulan atau minimal 10% dari penghasilan. Dengan angka yang jelas, progres bisa diukur dan dievaluasi.

Keuangan butuh ukuran, bukan sekadar niat.

 

3. Menabung dari Sisa Uang

Ini kebiasaan klasik: pakai dulu, nabung belakangan. Padahal kalau menunggu sisa di akhir bulan, biasanya yang tersisa cuma receh, atau bahkan nol.

Coba ubah polanya. Begitu gaji masuk, langsung sisihkan di awal. Sistem auto-transfer bisa jadi solusi praktis supaya kamu nggak lupa atau tergoda pakai duluan.

Menabung itu soal disiplin sistem, bukan soal besar kecil nominalnya.

 

4. Semua Uang Dicampur Jadi Satu

Saldo terlihat “masih aman”, tapi sebenarnya isinya campur aduk: uang makan, uang tagihan, uang nongkrong, sampai uang tabungan.

Tanpa pemisahan yang jelas, kamu jadi sulit mengontrol pengeluaran.

Supaya lebih terstruktur, kamu bisa memanfaatkan fitur seperti Celengan dari Amar Bank. Dengan fitur ini, kamu bisa memisahkan tabungan berdasarkan tujuan. Misalnya dana liburan, dana darurat, atau dana gadget. Dilengkapi pengingat dan auto-debit, proses menabung jadi lebih rapi dan konsisten.

Otak juga jadi lebih sadar: mana uang yang boleh dipakai dan mana yang tidak.

 

5. Menganggap Extra Income sebagai “Free Money”

Bonus, THR, cashback, atau penghasilan side hustle sering dianggap sebagai uang tambahan yang bebas dihabiskan.

Padahal, justru ini momen terbaik untuk mempercepat target finansial.

Daripada langsung habis untuk belanja impulsif, kamu bisa mengalokasikannya ke tabungan atau deposito. Deposito membantu “mengunci” dana dalam periode tertentu sehingga tidak mudah tergoda untuk diambil.

Sekarang buka rekening digital juga makin mudah tanpa saldo minimum yang memberatkan. Ditambah lagi, bunga deposito Amar Bank cukup kompetitif di industri digital banking Indonesia, sehingga dana kamu bisa berkembang lebih optimal.

 

6. Belum Punya Dana Darurat

Laptop rusak. Motor mogok. Tiba-tiba harus cek ke dokter.

Tanpa dana darurat, situasi seperti ini bisa langsung merusak rencana keuangan yang sudah kamu susun.

Dana darurat memberi ruang bernapas agar kamu tidak perlu berutang atau mengambil dana dari tujuan jangka panjang.

Kalau masih bingung menentukan nominal idealnya, kamu bisa memanfaatkan fitur Saving Insight dari Amar Bank yang membantu menghitung kebutuhan dana darurat berdasarkan pemasukan dan pengeluaran kamu. Jadi perhitungannya lebih realistis dan sesuai kondisi pribadi.

 

7. Menunda Investasi Karena Merasa Belum Siap

Banyak Gen Z merasa harus menunggu gaji besar atau kondisi “sempurna” sebelum mulai investasi.

Padahal, mulai kecil jauh lebih baik daripada tidak sama sekali.

Kamu bisa mulai dari sekitar 10% penghasilan atau Rp300.000–Rp500.000 per bulan, lalu tingkatkan secara bertahap sesuai kemampuan. Tidak perlu langsung besar, yang penting konsisten.

Waktu adalah faktor penting dalam investasi. Semakin cepat mulai, semakin besar potensi hasilnya.

 

Bangun Sistem, Bukan Sekadar Semangat

Buat Gen Z, resolusi keuangan bukan tentang tiba-tiba menjadi ahli finansial dalam semalam. Yang lebih penting adalah membangun sistem yang realistis dan bisa dijalankan dalam jangka panjang.

Fokus pada prioritas. Gunakan angka yang jelas. Pisahkan pos keuangan. Manfaatkan otomatisasi. Dan jangan tunda langkah kecil hanya karena merasa belum siap.

Karena pada akhirnya, keuangan yang sehat bukan hasil dari motivasi sesaat, tapi dari kebiasaan kecil yang dilakukan konsisten setiap bulan.