dana darurat, tabungan, tunaiku, amar bank, keuangan

Mengenal “Doom Spending” Lebih Jauh

Stres itu sebenarnya bagian dari kehidupan yang nggak bisa dihindari. Entah karena pekerjaan numpuk, biaya hidup naik, hubungan sosial yang bikin pusing, atau sekadar capek menghadapi rutinitas yang itu-itu aja. Semua orang pasti pernah ngalamin.

Makanya, penting banget punya cara yang sehat untuk mengelola stres. Ada yang memilih olahraga, healing ke alam, nonton film favorit, pergi ke kafe bareng teman, atau bahkan sekadar rebahan sambil dengerin musik. Nggak ada yang salah dengan itu. Justru aktivitas seperti ini bisa membantu pikiran lebih rileks dan recharge energi.

Amar Bank
Oleh: Fadhilah Hasyyati

Pada: 11 Jun 2026

Daftar Isi

Blog ID:

Amar Bank
Oleh: Fadhilah Hasyyati

Pada: 11 Jun 2026

dana darurat, tabungan, tunaiku, amar bank, keuangan

Sayangnya, nggak semua orang menyalurkan stres dengan cara yang tepat. Ada juga yang memilih healing lewat belanja. Awalnya cuma scroll e-commerce buat cari hiburan, tapi berakhir check out beberapa barang yang sebenarnya nggak dibutuhkan.

Kalau kebiasaan ini terdengar familiar, bisa jadi kamu pernah mengalami yang namanya doom spending.

 

Apa Sih, Doom Spending Itu?

Belakangan ini, istilah doom spending makin marak dibahas. Fenomena ini menggambarkan kebiasaan menghabiskan uang secara impulsif sebagai respons terhadap rasa cemas, stres, atau ketidakpastian tentang masa depan. Pikiran “yaudah lah, besok juga belum tentu lebih baik” sering kali menjadi pencetusnya. Singkatnya, karena hidup terasa berat, kita mencari kebahagiaan instan lewat belanja untuk pelarian sesaat. 

Masalahnya, rasa senang tersebut biasanya cuma bertahan sebentar. Setelah paket datang, yang muncul justru notifikasi tagihan, saldo yang berkurang, dan rasa bersalah karena pengeluaran yang nggak direncanakan. Yang artinya apa? Yup, malah bikin makin stres. 

 

Kenapa Doom Spending Bisa Terjadi?

1. Stres dan Tekanan Hidup

Biaya hidup yang terus naik, target kerja yang makin tinggi, hingga tekanan sosial bisa membuat seseorang merasa lelah secara mental.

Saat kondisi emosional sedang turun, belanja sering dianggap sebagai cara tercepat untuk mendapatkan rasa senang.

 

2. Terlalu Banyak Terpapar Media Sosial

FYP yang penuh racun, influencer yang unboxing barang baru setiap hari, sampai tren "must-have item" bisa membuat kita merasa tertinggal.

Akhirnya muncul pikiran, "Kayaknya aku juga butuh deh." Padahal belum tentu.

 

3. FOMO (Fear of Missing Out)

Promo tanggal kembar, flash sale, diskon terbatas, dan berbagai gimmick pemasaran sering membuat orang takut ketinggalan kesempatan.

Karena takut menyesal, akhirnya membeli dulu dan berpikir belakangan. But guess what? Barang yang sudah dibeli dengan alasan ini, biasanya nggak bisa dikembalikan. 

 

4. Mencari Validasi atau Mood Booster

Nggak sedikit orang yang menjadikan belanja sebagai hadiah untuk diri sendiri setiap kali merasa sedih atau lelah.

Sesekali memang nggak masalah. Tapi kalau setiap stres solusinya check out, dompet bisa ikut stres juga.

 

Dampak Buruk dari Doom Spending

 

Kondisi Keuangan Jadi Berantakan

Pengeluaran yang nggak terkontrol bisa mengganggu anggaran bulanan. Uang yang seharusnya masuk tabungan atau dana darurat malah habis untuk hal-hal impulsif.

 

Muncul Rasa Bersalah

Ironisnya, setelah belanja, banyak orang justru merasa makin cemas karena sadar sudah menghabiskan uang terlalu banyak.

Jadi, stresnya bukan hilang, malah bertambah!

 

Sulit Mencapai Tujuan Finansial

Dana liburan, dana darurat, DP rumah, atau target investasi bisa tertunda karena uang terus bocor untuk pengeluaran yang sebenarnya nggak penting.

 

Cara Mengatasi Doom Spending

 

Kasih Jeda Sebelum Check Out

Kalau melihat barang yang menarik, coba tunggu 24 jam terlebih dahulu sebelum membeli. Sering kali keinginan itu hilang setelah beberapa saat.

 

Kenali Pemicu Emosimu

Coba perhatikan, kapan biasanya kamu impulsif belanja? Saat stres kerja? Saat bosan? Saat habis scrolling TikTok?

Dengan mengetahui pemicunya, kamu bisa lebih waspada.

 

Cari Pelarian yang Lebih Sehat

Daripada belanja, coba alihkan stres dengan olahraga, jalan santai, ngobrol dengan teman, membaca buku, atau melakukan hobi yang disukai.

 

Buat Anggaran untuk Self-Reward

Self-reward itu penting. Tapi tetap perlu batas. Sisihkan anggaran khusus untuk hiburan agar kamu tetap bisa menikmati hidup tanpa merusak kondisi keuangan.

 

Doom spending bukan soal kurang pintar mengatur uang, melainkan kebiasaan yang sering muncul saat emosi sedang tidak stabil. Kabar baiknya, kebiasaan ini bisa dikendalikan kalau kita mulai lebih sadar terhadap pola pengeluaran dan pemicunya.

Ingat, nggak semua rasa stres harus diselesaikan dengan checkout. Kadang yang kita butuhkan bukan barang baru, melainkan waktu untuk istirahat, menenangkan diri, dan kembali menyusun prioritas. Dompet tenang, pikiran pun ikut lebih nyaman.